Tips Menuju Anak Berbasis Bilingual

presentation1

Photo Credit taken here :

Okay versi ini benernya udah ada versi Inggrisnya, tapi saya buat eh saya tulis versi bahasa Indonesianya dengan alasan bahwa gak semua orang suka baca hal2 yang berbau bahasa asing, eh bagus dong tandanya orang cinta bahasa Indoonesia, nah kayak saya ini, meski bahasa Indonesia saya bukan EYD. FYI ini ‘project’ sudah saya niatkan sebelum saya mengandung, dan research dengan subject anak saya sendiri ini sudah saya terapkan sejak dia dalam kandungan. Saya mau share karena emang ini benar2 membawa hasil tanpa susah payah. Hasilnya juga gemilang!

Nah saya sering denger nih, orang-orang pengen banget anaknya bisa bilingual. Sebenarnya bilingual itu apa? OK, Bilingual itu dari kata Bi – yang artinya dua, dan lingua (lingual) yang artinya bahasa. Anak bisa dikatakan bilingual kalau dia secara aktive(bicara) dalam dua bahasa, nah kalau cuma mengerti saja (passive) menurut saya sih bukan bilingual,  tapi hidup di lingkungan bilingual.Hidup di lingkungan bilingual tidak serta merta membuat anak jadi anak bilingual lho, karena tergantung juga dukungan dan usaha dari orang sekitar, dalam hal ini saya bahas orang tua.

Sebenarnya baik anak mau menjadi aktive dua bahasa atau hanya passive saja, itu terserah niat kedua orang tua. Ada dua golongan orang tua: ( Note ; dalam BLOG ini saya ambil bahasa ibu adalah bahasa Indonesia ya ). nah golongan kedua adalah kami yang mau anak bisa dua bahasa aktive dan passive.

  1. Orang tua yang tidak keberatan atau tidak memusingkan hal ini:

Ah gak penting anakku bisa bahasa ibu ( bahasa Indonesia) yang penting dia ngerti itu udah cukup. Kan bahasa Indonesia gampang, entar mah dia pasti bisa. Kan dia tinggal di Jerman, gak penting dia bisa bahasa Indonesia

Tanggapan saya pribadi :

1.Well, kalau di keluarga saya berbeda. Alhamdulillah saya dan suami punya target sama, we are on the same boat! yay! bahwa selain bisa secara aktive dan passive bahasa Jerman ( tentu saja ya, kan kami tinggal di jerman, plus papanya juga orang Jerman dan dia juga orang Jerman secara darah dan hukum.) dia juga ‘wajib’ bisa bahasa Indonesia ( bahasa yang saya dan suami putuskan sebagai bahasa ibu.). Anak saya tumbuh dalam keluarga multi lingual artinya anak yang tumbuh dengan lingkungan lebih dari dua bahasa. Ini background sedikit:

Saya dan suami 90% menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Saya berbahasa Indonesia, Jawa dan Arab kayak misal sebelum makan baca bismilah, habis makan alhamdulillah, dan anak saya juga belajar ini. Dirumah dia sering mendengar saya dan suami berbincang pake bahasa Inggris, dan karena dia sudah besar kadang dia tanya kalau mendengar kata bahasa Inggris, tetapi format pertanyaannya kadang dalam bahasa Jerman (kalau tanya ke papanya) atau Indonesia (kalau tanya kesa ya, misaal nih ya:

Dia denger kata ‘RAINBOW’, jika dia tanya sang papa dia akan bertanya ‘Papa, was heiß ‘rainbow? ist das englisch?’ kalau tanya ke saya ya ‘ Bunda, apa itu ‘rainbow’ di bahasa Indonesia?’.  Nah sedikit bocoran nih ya, tujuan kami saat ini adalah agar anak2 kami bisa bicara aktive passive bahasa Indonesia. Untuk kedepannya saat dia sekolah dan besar, akan menjadi multilingual kid yang akan tau bahasa Inggris, bahasa arab, dan bahasa lain yang dia mau. Namun saat ini ada satu aturan saklek alias paten :

dengan anak kami, saya harus pake bahasa Indonesia, dan papanya harus pake Jerman. Itu paten sejak saya mengandung. (Iya kan bayi dalam kandungan udah bisa denger suara papa dan bundanya juga kan!). Iya bener, sampe segitu niatnya!

2. Keluarga saya di Indonesia buanyak banget, nah kami mau ketika kami ke Indonesia, dia bisa dengan percaya diri dan lancar berbahasa Indonesia,y ang mana selama ini dia benar2 percaya diri menggunakan bahasa Indonesianya dengan siapa saja. Anak saya anak yang cerewet, dan di Indonesia pun dia tidak pernah malu bicara. Saya gak mau jadi interpreter anak saya, ngapain, wong dia emang orang Indonesia kok.  Rasa ‘Sense of pride and belonging’ ini yang saya mau tanamkan juga ke dia.

3. Tiap anak adalah beda. Kita ga tau bagaimana minat anak akan berubah dari waktu ke waktu. Ada anak yang minat bahasa, ada juga yang tidak. Nah bayangkan kalau anak tidak ada minat dengan bahasa, bagaimana dia mau belajar bahasa? bahkan bahasa semudah bahasa Indonesia? nah semakin besar akan semakin memakan waktu untuk bisa bahasa asing. Sebenarnya aneh juga menyebut bahasa Indonesia adalah bahasa asing karena dia orang Indonesia ( juga Jerman) dan pastilah harus bisa berbahasa Indonesia. Berdasarkan research saya, baca2 buku dan artikel, anak yang bisa dua bahasa akan sangat percaya diri, nah itu salah satu manfaat anak bilingual (bicara dua bahasa) yaitu mendorong rasa percaya dirinya.

4. Menikah dengan Warga negara asing itu adalah sebuah tiket anak untuk menjadi multilingual tanpa harus membayar uang kursus kelas bahasa.Kenapa? saya dulu jurusan bahasa asing keguruan artinya kuliah bukan sastra Inggris meski belajar sastra juga, tapi lebih mengarah pada bagaimana cara mengajar bahasa Inggris ke orang, dan dalam mata kuliah saya dulu saya belajar bahwa pemahaman akan bahasa ibu  (terserah sih bahasa ibu yang dipake apa- asal beda ama ayah) akan mempermudah anak untuk bisa memahami  bahasa2 lain sehingga jalan menuju multilingual itu mudah. Banyak yang bilang entar bingung bahasa anak, saya dengan sangat tegas katakan TIDAK asal berpegang pada prinsip2 bilingual,  Nah masuk ke tips atau prinsip2nya ya:

a. Ingat akan OPOL atau One Parent One Language, artinya gini saya tetep pake bahasa Indonesia ( tidak dicampur2, setidaknya 95% Indonesia) dan papa tetep pake Jerman (tidak dicampur2). Dengan cara ini anak bisa bedakan ‘Oh dengan ibu saya pake bahasa Indonesia, dan dengan papa pake bahasa Jerman.’ Ini diterapkan dari awal banget ya, dari anak masih dikandung badan. Duuh sampe segitunya! semua ibu hamil pasti tau, fetus usia beberapa minggu udah bisa denger suara dari luar, dan suara yang paling dikenali adalah suara ibu. So yes, kalu mau anak biasa atau akrab dengan bahasa, waktu lagi hamil dan curhat sama dedek bayi, pakailah bahasa ibu.

b. Ini adalah cara kami yang berhasil dengan gemilang! lang lang lang! nah setelah menetapkan aturan OPOL, lalu ke prakteknya :

  1. Anak kami mulai bicara dua kata ketika umur 11 bulan,karena dia umur 11 bulan tentu saja belum masuk TK atau katakanlah sebagiaan besar waktunya adalah dirumah ( meskipun dia juga ikut baby music grup, sport, tapi kan tidak lama dan saya selalu mendampingi.) Bulan2 ini sampe 2 tahunan dia lebih banyak pake bahasa Indonesia, tetapi dia sudah tau aturan OPOL ini (dengan ibu bahasa Indonesia, dengan papa Jerman). Meski kadang masih banyak kecampur2. Ketika dia pake istilah Jerman ke saya misal ‘Milch, bitte.’ (Susu, tolong!). Saya tidak menyalahkannnya tapi saya ulangi kembali terjemahannyaAh adik mau susu?, mau minum susu?’ karena terjemahan ini adalah dalam bentuk pertanyaan, dia akan menjawab ‘Iya susu‘ see? ketika dia umur 11 bulan dia belajar misalnya saja milch adalah susu dalam bahasa ibunya. Dan ini saya terapkan terus sampe sekarang. Jadi saya penggunakan metode ‘ Repetition and Question’ . Repetition agar anak ingat, karena ‘The best methode of learning is through repetition’ artinya metode terbaik dalam belajar adalah ‘Pengulangan’ sehingga terbiasa. Kedua ‘Question’ yang artinya merangsang komunikasi dua arah : saya dan anak saya! sehingga yang tadinya hanya minta susu bisa berlanjut dengan diskusi tentang susu.

Anak saya (11 bulan): Milch, bitte!

Saya                             : Ah adik mau susu? minum susu?

Anak saya                   : Iya susu!

Saya                              : Hmm enak ya dik susunya! susu-nya seger ya dik. Adik suka

susunya?

Anak saya                    : Susunya enak.

So kalau kalian perhatikan, berapa kalikah saya katakan kata ‘Susu’? ini yang namanya fun repetition, jadi sekalian ngobrol gitu.

2. Ketika anak saya masuk usia sudah agak besar, sekitar 15 bulan, dimana dia sudah lancar merangkai tiga kata ‘Bunda, aku mau makan.’ saya agak meningkatkan metode saya yaitu terus mengingatkan dia pake bahasa Indonesia. Misal dia bilang ‘Bunda, aku möchte essen.’ Yep anak saya dulu hanya pake ‘Aku ‘ saja sisanya pake Jerman. Karena dia sudah besar saya ingatkan dia ‘Dik sama bunda pake bahasa Indonesia ya. Adik mau makan?’ Disini saya tidak ada kata menyalahkan tapi ‘Correcting Errors Through Conversation’ dan tetep ‘Question ‘ dan secara otomatis dia bakal jawab ‘iya mau makan.’ Methode ‘REPETITION’, ‘CORRECTING ERRORS THROUGH CONVERSATION’, dan ‘QUESTION’ ini sampe sekarang terus saya terapkan.

3. Nah semakin besar anak, tentu kosakata semakin bertambah, sehingga metode pembelajaran juga semakin berkembang. Kali ini karena anak saya sudah TK dan waktunya ‘banyak’ di TK tentu saja bahasa Jermannya semakin meningkat. Saat pertama masuk TK unur 3 tahun, methode baru saya terapkan : INDONESIAN, PLEASE!. Ada godaan anak saya pake Jerman ke saya meski dia udah tau aturan OPOL ini, dia tergoda dengan pola pikir ini:

Ah siapa tau Bunda ngerti bahasa Jerman. Ah Bunda tau kok bahasa Indonesia

tapi saya tau dia tergoda, sehingga ketika dia pake Jerman ke saya, saya selalu bilang

‘Bunda kurang paham bahasa Jerman, pake bahasa Indonesia saja ya.’

Misal :

Anak saya: Bunda, darf ich das Bonbon essen, bitte?

Kebanyakan orang tua kategori yang pertama akan langsug jawab ‘Ya boleh’ tapiiii saya tidak! saya akan tetep menggunakan metode lalu2, namun metode pertama yang saya gunakan adalah kata line andalan saya

‘Bunda kurang paham bahasa Jerman, pake bahasa Indonesia saja ya.’

Orang tua kategori pertama selalu mengeluh ‘Padahal aku yo pake bahasa Indonesia. tapi selalu dijawab Jerman, tapi ngerti dia.’

Nah ini ‘kesalahan’ jika orang tua sebenarnya pemgen anak bilingual tapi membiarkan metode ini terus berlangsung, artinya anak akan mikir ‘ Ah selama bunda ngerti aku ngomong apa, males ah pake bahasa indonesia.’

Ya jelas, anak gak ada rasa cinta berbahasa, apalagi orang tuanya membiarkan tanpa mengingatkan pake bahasa Indonesia, ya hasilnya anak akan tetap tidak aktive bicara bahasa Indonesia.

Kembali ke ‘Makan’ tadi, karena dia sudah besar dan saya tau perkembangan bahasanya, saya tidak pake sistem repetition dalam hal ini ( meski repetition tetep saya terapkan dalam kasus lain).

Saya akan tanya ‘ Kamu mau apa?’ nah kan metode ‘QUESTION’ tetep saya selipkan. Dan dia akan jawab ‘Mau permen Bunda.’ dan dari pertanyaan sederhana ini berlanjut ke percakapan lain misal tidak boleh permen sebelum makan malam.

Anak kami sekarang hampir umur 5 tahun. Dan kami bangga bahwa dia bisa secara aktive dan passive bahasa Indonesia dan juga Jerman. Pondasi dia sudah cukup kuat! tapi ada kasus seperti dibawah ini dimana aturan : INDONESIAN PLEASE, bisa dimodifikasi,

  1. Dia tidak mengerti bahasa Indonesia sebuah kata, dan dengan percaya diri dia akan tanya kesaya ‘ Bunda apa bahasa Indonesianya ‘Schade’!’ intinya dia bener2 paham aturan OPOL, kedua dia tidak takut bertanya apa bahasa Indonesianya sebuah kata yang tidak dia mengerti.

Salah satu perkembangan dengan pondasi bilingual yang sudah kuat ini :

  1. Suatu hari saya mencampur  bahasa Indonesia saya dengan Jerman, code mixing gitu, entah cara pengucapan saya salah, atau anak saya yang dengernya salah, kemudian anak saya nyeletuk gini ‘Bunda, kalau  gak bisa Jerman ya pake bahasa Indonesia saja.’ saya ketawa sekali,dan langsung switch atau ganti ke bahasa Indonesia.
  2. Waktu di Indonesia, anak saya dan papanya cerita ini itu dalam bahasa Jerman, kemudian dia ingin melibatkan saya dalam percakapan, dia bertanya ‘Bunda tau apa Rad itu?’, intinya ini adalah pondasi OPOL yang sudah kuat.
  3. Di TK dia bilang ke guru2nyya bahwa saya memakai bahasa Indonesia dirumah dan dengan papanya pake bahasa Jerman. Dengan teman2nya terkadang dia mengenalkan bahasa Indonesia misal ‘Das ist ‘roti’ auf indonesisch: ( Itu ROTI dalam bahasa Indonesia.’

So untuk merekap ini metode yang saya gunakan :

  1. REPETITION
  2. CORRECTING ERRORS THROUGH CONVERSATION
  3. REINFORCEMENT THROUGH QUESTIONS AND ANSWERS
  4. INDONESIAN, PLEASE

Nah ini semua harus dibarengi dengan CONSISTENCE (konsisten), PERSISTENCE (niat yang kuat), GENTLENESS (kelembutan artinya tidak menyalahkan), PATIENCE (kesabaran)

So jika kalian adalah orang tua jenis nomer 2 (mau anaknya bisa aktive dan passive bahasa Indonesia) bisa terapkan sistem yang saya pake, dijamin anak kita semua, bisa bilingual. Semoga bermanfaat ya, dan jangan menyerah! anak2 itu pintar dan hebat!Sukses ya ibu-ibu dan bapak2!

TIps ini dalam bahasa Inggris bisa di klik di link bawah ini

Successful Tips for Bilingual KIDS

Language Observation : Code Switching ( Observasi saya selama 3 tahun, subject anak saya sendiri)

Language Observation : Du muss schlafen, oder?

Advertisements

2 responses to “Tips Menuju Anak Berbasis Bilingual

  1. Terima kasih untuk tipsnyaa..
    Saya dan suami orang Indonesia tapi tinggal di Swedia. Berhubung kita berdua belum ada yang bisa bahasa Swedia jadi saya mengajarkan sedikit2 bahasa Inggris, karena dsni orang2 bisa berbahasa inggris. Inginnya bisa pake sistem OPOL tdi.. suami bhs. Inggris saya bahasa, tapi kita masih belum bisa konsisten.. hehe..
    Mudah2an kedepannya kita bisa lebih konsisten dan mulai sedikit2 mengenalkan bahasa Swedia, belajar bareng sama orang tuanya.. haha..

    • Halo makasih ya udah mampir dan baca, Iya di Swedia semua orang bisa bahasa Inggris, di Jerman itu orang2nya bangga ama bahasanya sendiiri, jadi jarang banget ada yang bisa Inggris, atau kitanya sih yang rada sungkan pake di negara yang tidak berbahasa Inggris. Aku ada kasus sama kayak dirimu, orang tuanya dua2nya Turki, nah bingung ngaturnya siapa yang pake bahasa Turki siapa yang pake Jerman, aknirnya ditputuskan, salah satu yang lancar bisa Jerman yaitu mamanya pake Jerman, dan papanya pake Turki. Konsisten emang perlu banget, kalau nggak hasilnya emang gak maksimal sih. Semangat ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s