Mengenang Masa LDR : Pertunangan dan Pernikahan

Bulan Ramadan sudah berlangsung lebih dari satu minggu, betapa cepat berlalu. Ya Allah semoga kita dikuatkan menyelessaikan puasa di bulan Ramadan ini. Alhamdulillah, hari ini bertepatan dengan hari jadi kami yang ke 5, ini juga berarti bahwa ‘sequel’ cerita Mengenang Masa LDR ditutup dibagian ketiga ini: Ya, akhirnya sampai kepada bagian Pertunangan dan Pernikahan (Alhamdulillah).

Buat yang penasaran bagian ke1 (Awal Mula Semua) dan ke2(Ketemu di Indonesia dan Jerman) bisa di click di link ya,

Nah setelah saya kembali ke Indonesia, perbincangan kami masih seputar mengenal diri kami meski kalau saat itu (2010) dihitung2 ya kami sudah mengenal selama 7 tahun. Masih seputar hari-hari kami, ya tidak ada yang benar-benar berbeda, kecuali rencana sang suami (saat itu pacar) untuk kembali ke Indonesia  mengunjungi saya, dan keluarga.

2010

Sekitar awal tahun 2010, beberapa bulan  setelah saya pulang dari Jerman, sang pacar (sekarang suami) mendarat di bandara Juanda, Surabaya, Indonesia dengan selamat. Kami berencana mengunjungi kota Bali dan Jogjakarta (lagi). Untuk cerita liburannya gimana, ada sedikit yang istimewa karena pada saat kami di Jogja, disitulah saya dilamar! dalam artian, akhirnya sang pacar memberanikan diri untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Cara melamarnya juga amat sangat ‘romantis’ tapi bukan seperti yang di film2 ya, pake bunga, duduk berlutut, bilang aku cinta kamu, oh no bukan yang seperti itu. Anyway, ‘romantis’ karena sungguh diluar dugaan menurut standard saya,  caranya melamar. Maaf nih kalau ada yang penasaran bagaimana caranya, sepertinya cukup kami dan orang-orang terdekat saja yang tau gimana. Saya agak kurang PD sharing di blog, hehe. It  might be something with privacy!.

Sekembali dari Jogja, sang pacar lamgsung menemui kedua orang tua saya untuk menyatakan maksudnya dan secepat kilat, orang tua mengatur acara pertunangan yang dihadiri saksi dari pihak keluarga. Acara tunangan cuma 7 orang termasuk kami. Basically, acara tunangannya adalah wejangan apakah pernikahan itu, bagaimana pasangan nanti bertindak dalam bahtera rumah tangga, jadi nggak ada acara undang2 tetangga, dan semacamnya. Oh ya, para sesepuh yang hadir hehe (om saya dan ortu saya) memberi wejangan bahwa sebaiknya tidak lama menunggu pernikahan setelah pertunangan.

Sebelum sang pacar (eeeh salah sudah berubah jadi tunangan) kembali ke Jerman, kami berjanji untuk mengatur pernikahan tahun depan (2011). Pada saat itu masih banyak orang-orang terdekat yang menyeletuk :

  1. Duuh nunggu tahun depan, kok lama amat (awal tahun 2010)
  2. Kenapa gak langsung nikah aja terus langsung ke Jerman (Haha, saya ketawa! emangnya pernikahan antar bangsa tidak pakai dokument2 penting?tidak semudah itu dong)

Oh ya sepertinya saya harus meng-highlight bulan yang sangat special juga yaitu bulan MEI dimana saya mendapat kaldo ulang tahun yang special: sang tunangan memberi saya hadiah berupa sekolah bahasa Jerman di Goethe Institute, Surabaya. Yaay!!! saya langsung gemetar, menangis, sujud sykukur dan SMS sang tunangan, akan hadiah yang sangat istimewa. Saya juga sudah lama ingin sekolah di Goethe. Well, lebih tepatnya sih kursus, tapi karena intensive, saya lebih suka meneyebutnya sekolah. Kartu ulang tahun yang dia kirimkan berisi kejutan yang sangat saya tidak duga. Again! emang dia pandai membuat kejutan!. Oh ya, alasan saya tidak menempuh kursus bahasa Jerman di Goethe Institute, Surabaya, setelah kami memutuskan pacaran(2005) karena terus terang biaya kursus di Goethe sangat mahal, gaji saya sebagai guru plus saya juga kuliah bakalan gak cukup. Kebanyakan kasus begini: misal kita sedang menjalin hubungan dengan WN X, langsung deh kursus bahasanya. Saya pribadi waktu itu karena masih dalam taraf pacaran, nggak  mau ngoyo sampe ‘buang’ uang kursus  bahasa hanya supaya nantinya (padahal kepastian nikah juga belum) bisa konunikasi. Untungnya sang tunangan excellent Inggrisnya (emang saat pertama saya cari random chat di ICQ, saya pilah2, saya cari yang excellent Inggrisnya, biar kami nyambung kalau ngomong.). Tahap menempuh studi di Goethe untuk lulus dan mendapatkan sertifikat A1 (kelayakan bahasa) adalah mutlak diperlukan untuk mereka yang akan pindah dan menetap di Jerman. So hadiah ini memantapkan langkah kita menuju pernikahan.

Sekitar Juni atau Juli, saya akhirnya resmi terdaftar sebagai murid di Goethe Institute Surabaya (Info gak penting: ada 4 orang temen sekelas saya, saat ini juga tinggal di Jerman dan berdekatan dengan saya kotanya lho, dan sudah  beberapa kali bertemu juga! asyik kan ya!)

Nah sembari saya menempuh studi, kami membahas seputar pernikahan. Ini beberapa topik yang sangat sering kita bahas:

  1. Pernikahan : akan diadakan dimana pernikahan kami , apakah di Indonesia atau di Jerman
  2. Jika di Indonesia, bagaimana prosesnya dan dokument2 apa saja yang diperlukan. Siapa sajakah yang akan hadir, dan seputar penyelenggaran atau ceremonial baik ijab qobul ataupun pesta. Nah untuk pesta, kami berdua sih mau sangat sederhana saja, alias gak undang2 banya orang, atau malah cuma keluarga aja. Tetapi demi menghormati keinginan orang tua terutama bapak yang berasal dari keluarga besar, ya akhirnya jika kami putuskan di Indonesia, kami  harus  mengundang pihak keluarga jauh.
  3. Apakah kami akan mengadakan pesta lagi di Jerman

Tiga pertanyaan yang dibahas melalui chatting, email, dan telp yang panjang. Jujur saja pusing menentukan tempat pernikahan karena kerumitan dokuments. Saat itu saya join Komunitas Kawin Campur di Facebook, dan saya banyak bertanya disana. SIngkat cerita, kami akhirnya memutuskan menikah secara agama di Indonesia, dan secara resmi di Jerman. Menjelang 2011 kami disibukkan oleh pelengkapan dokument2 yang diperlukan untuk pernikahan di Jerman, pengaturan pesta pernikahan di Indonesia dan ijab qobul.

2011

Sekitar akhir Mei 2011, sang tunangan datang kembali ke Indonesia, dan kali ini adalah untuk acara pernikan kami sekaligus penjemputan saya sebagai istri untuk dibawa ke Jerman dan hidup sebagai pasangan suami istri (alhamdulillah). Pada saat ini, Mei 2011, saya masih menempuh studi di Goethe Institute, dan saat itu saya akan segera menyelesaikan studi dan menempuh test bahasa untuk mendapatkan sertifikat A1. Ada beberapa hari dimana sang suami (saat itu tunangan )menemani saya ke Goethe. Guru saya (Frau Heidi), orang Jerman asli, tetapi sudah puluhan tahun tinggal di Indonesia dan menikah dengan orang Indonesia. Akhirnya, saya lulus juga test A1 dengan hasil sangat  baik! seneng dan lega sekali. Satu tiket untuk memenuhi syarat atau dokument tinggal di Jerman sudah dikantong!

Tahun ini padat sekali dengan acara, gak ada acara melancong liburan kemana karena bulan June ini adalah bulan ijab qobul dan ceremonial pernikahan kami. Kami disibukkan oleh pertemuan dengan pihak hotel dimana pernikahan kami akan dilangsungkan (kami hanya menyebar 50 undangan saja. Ya kalau di Indonesia jumlah yang hadir dua kali dari jumlah undangan, so in total there were only  100 people coming.), dengan pihak mesjid yang menikahkan kami secara agama, dan pihak Standesamt (kantor yang mengurusi misal pernikahan) di Jerman, karena pada saat sang tunangan di Indonesia, visa tunangan saya ada sedikit masalah, padahal kami sudah membooking dua tiket pulang ke Jerman bersama. Wuiih stress sekali bulan ini! tapi juga bulan yang penuh dengan harapan dan kebahagian.

20 Juni (haari ini) adalah hari dimana sang tunangan resmi menjadi suami saya. Hari dimana, sang suami menyatakan ijab qobulnya, di salah satu mesjid di Surabaya, dan seminggu kemudian kami mengadakan pesta pernikahan dengan mengundang 50 orang-orang terdekat, termasuk keluarga. Saat ijab qobul selesai dan pesta pun selesai, bukan berarti urusan kami pun selesai, karena kami was-was harus menunggu kepastian dari Standestamt akan dokument2 kami untuk visa tunangan saya (karena dimata hukum Jerman saya belum menjadi istri suami saya. Bahkan di hukum Indonesia juga.), singkat cerita, setelah berkali-kali suami saya menghubungi Standestamt, akhirnya beres juga, dan saya bisa terbang ke Jerman bersama suami saya.

Saya tau pasti banyak yang berpikir waah nikah siri, betul sekali. Kami menempuh jalur ini karena ini adalah yang teraman dan terbaik bagi kami. Nikah siri adalah menikah agar sah dimata Tuhan insha allah, sehingga saat saya diboyong saya sudah sah secara agama menjadi istrinya. Ada yang perlu digarisbawahi sedikit akan masalah ini : Tundalah berhubungan suami istri, atau hamil sebelum pernikahan diakui oleh satu negara (dalam kasus saya Jerman). Pertanyaan apakah pernikahan kami sudah diakui di Indonesia secara negara? jawabannnya bisa di klik disini di blog saya yang lain : Pencatatan  Pernikahan di Jerman ke Catatan Sipil Indonesia.

Alhamdulillah ya Allah! cerita yang Allah berikan ini, saya selipkan surat dari Al Quran, sebuah surat yang juga kami cantumkan dalam undangan pernikahan kami ( semoga barakah dunia akherat), Surat Al Hujuraat ayat 13.

Artinya :

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Happy Anniversary! hanya saya dan Allah yang mendengar doa Anniversary kami, aamiin, allahuma aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s