Mengenang Masa LDR Bagian 1: Awal Mula Semua

Sebelum salah sangka dengan postingan saya, saya bermaksud untuk sharing masa-masa LDR, karena begini: Jodoh itu ditangan Tuhan, dan ketika kita memang dijodohkan dengan orang yang kebetulan tidak berasal satu negara dengan kita, ada banyak ups and down yang harus dilalui. Blog ini adalah bagian pertama yang saya tulis dengan harapan akan  membawa optimism ketika Anda  berhadapan dengan yang namanya LDR dengan WNA (Warga Negara Asing). Semoga membantu!

DSC_2427

Kota Surabaya, dimana saya berasal,  diambil oleh saya sendiri, dari Hotel Bumi lantai 10 kalau tidak salah sih ya, saat kami  mudik ke Surabaya.

Saya sudah ‘janji’ sama diri sendiri untuk berusaha posting posts dalam bahasa Indonesia dua kali seminggu (Yep, kayak mandi waktu winter time di Jerman, dingin banget meski ada ‘heizung’ alias pemanas ruangan.) Nah, karena udah deket weekend, waktunya kasih setor satu postingan dalam bahasa Indonesia. Akhir-akhir ini saya lagi mellow banget, dan ingat masa-masa dulu hingga akhirnya Tuhan kasih saya so much blessings ‘terdampar’ disini bersama suami yang the best lah pokoknya! dianugerahi anak yang super hebat! ‘..Nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?’

I am thrilled with happiness waktu nulis ini, saking ingat  betapa Tuhan begitu baik kepada saya. Denger doa saya!

Dulu, jaman masih pacaran jarak jauh atau istilah kerennya Long Distance Relationship, dan lebih keren lagi disingkat LDR aja, sungguh masa yang saya bilang hampir selalu menyenangkan. Iya sih ada yang bikin sedih banget juga, tapi porsinya yang bikin deg2an seneng, gemetar seneng lebih banyak. Bagi yang baca dan lagi LDR, pasti nyanggah ‘Wah enaknya apa to mbak, wong gak bisa ketemuan tiap hari, gak bisa ngobrol bebas karena beda waktu. ‘ Hayo apa lagi gak enaknya!

winterol

Oldenburg, kota dimana dia dulu tinggal sebelum pindah ke Dortmund.Diambil pada saat kunjungan balasan saya ke Jerman untuk bertemu dengan keluarga dan kolega2nya dan bos2nya. Diperkenalkan sebagai calon istri (Tunggu di blog berikut:))

2003-2005

Waktu kami masih LDR, sekitar tahun 2003 sudah ada video call sih biasanya pake yahoo messenger, kalau sekarang SKYPE jadi alternative keren buat video call ama sang pacar yang jauh disana. Bahkan SKYPE sekarang jadi kata kerja atau VERB dalam bahasa Inggris ‘We were just skyping today.’, sekarang pun ada Whatssup, LINE, BBM apalah namanya. Setiap saat kalu mau tinggal PING! tinggal send apapun yang kita mau buat ngerekatin hubungan interpersonal. Jaman kita adalah jaman ‘JADUL’ LDR, belum ada Whatssup, dan sejenisnya.  Nah pacaran LDR kita beda banget dari LDR kebanyakan orang-orang sekarang.

Oh ya sekedar info gak penting dikit, kami kenal lewat chat messenger tahun 2003. Saya yang nemuin dia di random chat, soalnya nama samarannya keren banget. Sampe sekarang saya masih ingat nama samarannya.Tahun 2003 awal-awal kenal, komunikasi kita lewat chat messenger (ICQ. Hmm sekarang udah punah kali ya??), dilanjutkan E-mail-emailan. Gini, karena perbedaan waktu, dimana Indonesia 5 jam lebih malam (6 jam kalau winter time di Jerman), ya otomatis setelah berchat-chat ria, saya harus tidur karena keesokan harinya saya harus kuliah. Sedangkan dia waktu Jerman masih pagi menjelang siang, waktunya dia kerja. Setiap siang diwaktu senggang jam kuliah saya selalu sempetin check e-mail karena selalu ada e-mail dari dia masuk.kalau saya ada waktu lebih dan E-mailnya singkat saya sempetin balas. Kalau nggak, ya saya biasanya bikin draft di MS Word, terus kirim keeseokan paginya. Total email yang kita kirim sejak awal kita kenal sampe 2011 (saat beberapa minggu sebelum menikah:Ada sekitar 800 an Email. Suami saya mencetak semua emails, dan photo2 yang saya kirim, dan saya lihat filenya sekarang dirumah. Baca email saya yang dulu, bikin saya senyum-senyum sendiri.):Rutinitas ini terus terjadi dari awal 2003 sampe kita menikah. Chat, Email, chat,Email! tiap hari gak pernah absent dari dua hal ini. Apanya yang gak enak coba! intinya komunikasi terus mengalir.

Ada yang menarik dari komunikasi LDR kita yang jadul! saat awal kenal 2003, kita gaaaak pernah sama sekali lihat wajah atau kirim poto selama 4 bulan! 4 bulan tanpa lihat wajahnya? nekat? hmm nggak  juga. Saat beberapa kali kami saling chat dan kirim E-mail, dia menawarkan untuk menelepon saya, alasannya bukan lebay dan romantis seperti ‘I want to hear your voice’, alasannya ‘I want to try the connection. That would be great if it works’, aah saya pikir saya harus ‘think outside the box’, connection disini bisa dua arti, itu sih maunya saya. Betul kan? Suami saya adalah orang Jerman yang terkenal tidak gombal, pun demikian saya bangga akan otaknya dan hatinya. Saya agak deg2an takut dia gak bakal telp lagi,setelah telp 1 yang rada kaku diantara kita berdua. Sungguh namanya jodoh, insha allah selamanya, dia menawarkan :’We’ll talk again next week’ Yaaay, ada lagi seninya LDR: Nunggu telp minggu depan.

Dengan belum melihat poto kita sama sekali. Kita nyaman kok, meski saya penasaran sih saat dia deskripsikan gimana dia, tapi saya tahan gak tanya photonya. Ternyata suami saya tahan juga gak tanya photo saya. Saya mau pertemanan kita tahun 2003 itu tulus tanpa embel2 physical beauty, karena kecantikan fisik, ketampanan itu bisa berubah, tapi hati itu akan tetep sama (duh saya nangis sekarang!) Sekitar November-an , saya akhirnya mutusin kirim photo duluan! Haha  I know, saya kalah sabar. Ternyata saya sesuai bayangan dia, dan dia sesuai bayangan saya. Aaah jodoh ya! Aaamiin semoga dunia akherat.

Butuh 2 tahun lho, sebelum akhirnya kita mutusin lebih dari sekedar temen. Sumpah rasanya seneng banget baru pertama kali ‘ditembak’ cowok! ‘ditembaknya’ lewat telp lagi! Info gak penting lagi, saya gak pernah pacaran sebelumnya, ada TTM tapi bukan pacar. So, let’s just say dihitung dari 2003 (karena saat itu herannya kita udah merasa deket TTM gitu haha, tapi belum ada komitment pacaran)udah merasa deket banget kita. Suami saya itu orangnya JADUL, sampai sekarang pun HP ya HP biasa, yang cuma bisa buat telp dan sms-an. Modelnya juga bukan touch screen, masih yang pencet pencet gitu. Nah jaman kita LDR, dia juga gak ada web cam, alhasil kita juga gak pernah web cam an. Tapi kita pikir komunikasi kita intensive. Ada seninya sih gak ada web cam! ada yang ditunggu tiap hari.

Ah bicara ‘menunggu’, beneran ini adalah seninya LDR! Tiap selesai kuliah dan kerja yang saya tunggu kesempatan ngecek E-mail2x saya dan baca E-mail2x dia, nunggu chatting dan denger suara pesan masuk dari ICQ yang fenomenal ‘aw aw’! Itu seru banget!terus sabtu minggu karena dia belum pake internet connection yang murah dulu pas LDR (tuh kan JADUL!), soooo sabtu  minggu waktunya pacaran di telp! Sabtu minggu saya selalu deg2an karena bakal dapat telp dari dia. Durasi komunikasi kita di telp yang paling lama adalah 6 Jam, yep! kuping merah tapi hati berbunga2! Kadang kita juga nonton sepak bola ‘sama-sama’! kemudian saling komentar di telp. Terkadang kita juga main games online sama-sama. ‘Sweetbriars in Our Crsytal Clear’ adalah cerita yang saya blog dari games

lit1

Saya kalah! waah emang suami saya selalu menang kalau main games. Dia pernah bilang ‘Kalau main games ama saya, harus susah karena saya mau menang. Maaf ya sayang!’ sebel sih, hehe tapi emang dia selalu bagus kalu main games.

literarti yang kami mainkan berdua, waktu  kami LDR.

Pada saat saya mau mengajar, dia sempatkan telp saya sebentar hanya bilang ‘Have a nice day at work!’. Saya jadi senyum-senyum, cerah ceria mengajar bahasa Inggris! Ada cerita singkat sedikit, ketika saya mendapat telp dari dia, sebelum masuk kelas, tidak sengaja terdengar murid saya yang masih kelas 4 atau 5 SD saat itu, dan dia menggoda saya’hayoo, Ma’am dapat telp dari pacarnya ya? Ma’am pacarnya bule ya?’, saya nggak nanggepi, cuma senyum dan bilang masuk kelas.Sampai dikelas kadang masih diuber-uber biar saya jawab, ah anak SD! Aaaah sekarang mereka sudah besar! Kalau dihitung-hitung, saat ini mereka sudah kuliah, kerja, atau bahkan ada yan sudah menikah! OH  MY GOD, time flies!

Flaschback dikit awal2 kita kenal, sebulan atau beberapa hari kita kenal, dia kirim saya postcard kota dimana dia saat itu tinggal. Saya kaget sebenarnya karena tidak ada pemberitahuan dari pihak dia sebelumnya.SURPRISE! saat tukang post datang mengetuk pagar, mengantar postcard yang dikirim dari Jerman. Dan yang menarik, diisi postcardnya dia mengharap saya membalas postcardnya. Nah itu kita belum saling  mengirim photo lho! Wasn’t that crazy?! Dari situlah, akhirnya postcards demi postcards kita kirim, kartu ulang tahun tiap tahun tidak pernah absent. Sooo, bagaimana dibilang komunikasi yang tidak intensive kalau chatting tiap hari kecuali sabtu minggu (saatnya telp2an), e-mail2an tiap  hari juga, kirim postcards on a regular basis, sms kadang2 sih , mahal disaya soalnya kalu mau kirim SMS, kan belum ada Whatssup, BBM, dlll.Kok saya gak modal? ga niat? laa bukan gak niat, kan SMS tidak perlu tiap hari kan? at least itu gaya pacaran kami dulu.

Kami bukan pasangan polisi yang selalu menginterogasi dengan tanya :‘ Dimana kamu?’, ‘Sama siapa kamu?’, ‘Kok nggak telp?’ marah2 lah apa, kita adalah dua individu yang juga punya kesibukan masing2, punya kehidupan lain diluar kehidupan kita sebagai pasangan. Yang jelas komunikasi emang penting, tetapi privacy juga gak bisa diabaikan. Saya juga nggak nutut dia telp saya tiap sabtu minggu. Dia harus belanja, ngurus rumah juga sabtu minggu. Terkadang pesan singkat SMS dari kedua belah pihak yang bilang ‘Have a nice weekend sayangku! I’ll be thinking of you.’ adalah cukup. Kita juga gak tiap hari harus bilang ‘I miss you.’. Mungkin kita  berdua saat itu juga bukan ABG lagi.

Kami berdua punya panggilan sayang, panggilan dan singkatan nama dekat yang hanya kami berdua yang tahu (maaf ya! nggak bisa saya blog kalu itu.). Kalau saya bisa menyimpulkan dengan satu kata, hari-hari ditahun ini adalah : Anugerah

Buat bagian 2, masuk bagian ketemu di Indonesia dan Jerman! So, karena surgery saya sudah minggu depan, bagian 2 ini bakal take a bit of time to post. Meanwhile , saya mau bilang ‘Nikmati LDR Anda ya! Gak usah malu, gak usah sungkan, gak usah keburu2 kawin kalu bisa.’

Cheers!

Lulu

 

 

Advertisements

2 responses to “Mengenang Masa LDR Bagian 1: Awal Mula Semua

  1. Pingback: Mengenang Masa LDR Bagian 2: Ketemu di Indonesia dan Jerman | The Pearl of Java·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s