Analogi Cinta

Kemarin malam, saya sudah selesai membaca bab 1 dari novel Kitab Omong Kosong tulisan Seno Gumira Ajidarma, kisah awal tentang percintaan Rama dan Sinta.

Dua hari yang lalu, dunia per internetan dihebohkan dengan mini drama AADC 2014. Ada Apa Dengan Cinta, sebuah film yang menjadi tonggak munculnya kembali dan maraknya kembali film Indonesia di cinema. Cinta antara Rangga dan Cinta yang bereuni kembali setelah 12 tahun sejak mereka bertemu tahun 2002.

Beberapa bulan yang lalu, atau kalu nggak setahun lalu ya, saya tergerak hati untuk mengikuti kisah cinta bapak Habibie dan alm. Ibu Ainun. Kisah cinta yang terjalin dari mereka berdua sedang duduk di bangku sekolah.

Lama sebelum ada Rangga dan Cinta, serta lama sebelum saya membaca buku tulisan pak Habibie  berjudul Ainun Habibie, saya mengenal Romeo dan Juliet.

Kisah Rama dan Sinta yang pada awalnya mengilhami saya akan makna cinta, jadi tidak begitu saya agungkan atas nama cinta karena endingnya yang saya juga baru tahu kemarin malam. Rama dan Sinta  wayangnya pun kami pajang dirumah sebagai simbol cinta suci kami berdua. Cinta kami berdua memang suci, asli, dan murni. Kebanyakan dari kita apalagi yang tinggal di pelosok Jawa Timur dan Tengah, pasti akrab dengan Rama dan Sinta sampe-sampe atas nama mereka pun ada pagelaran sendratari Ramayana dengan tokoh tentu Rama dan Sinta. Sinta diculik Rahwana hampir satu tahun lamanya. Rama mencari dengan bantuan Hanuman sambil membawa cincin bukti suci, dan peristiwa Sinta Obong atau Sinta dibakar. Jika terbukti tak tersentuh Rahwana, maka Sinta tak akan terbakar. Dua bukti tanda kesanksian Sri Rama akan cinta suci Sinta . Sampai pada saatnya Sinta yang sedang hamil anak kembar Rama, kembali hilang di hutan terusir oleh masyrakat Ayodya dan Rama yang mementingkan rakyat. Hilang ke hutan bertemu petapa Walmiki. Sebenarnya sih Rama cinta karena ia pun akhirnya menjemput Sinta kembali atas bantuan Lawa dan Kusa anak kembarnya ketika menang sebuah pertempuran dan bertemu Sri Rama untuk membacakan kisah Ramayana. Saya bisa mengerti hati Sinta, ketika sekian lama tidak berjumpa, eeh begitu berjumpa tetep aja disanksikan cintanya, disanksikan bahwa apa benar Lawa dan Kusa anak kandung Rama. Sinta menangis dan meminta Dewa untuk membuka bumi dan menelannya kedalam bumi jikalau memang Lawa dan Kusa memang anak kandung Rama. Rama kecewa menyesal karena sanksi akan cinta Sinta, sampai akhirnya dia sendiri jadi pertapa mati mengudara alias raganya lepas dari badan.

Kembali ke bumi pertiwi, Indonesia. Ketika perfilman Indonesia mulai surut, pada tahun 2002 perfilman Indonesia kembali bangkit dengan adanya film AADC (Ada Apa Dengan Cinta)- Film tentang dua orang remaja yang sedang duduk dibangku SMA yang menjalani kisah cinta dari latar belakang karakter yang sangat berbeda. Kisah cinta yang berakhir pada perpisahan yang katanya sih sementara ‘Aku akan kembali pada satu purnama’ begitu kata Rangga pada Cinta. Rangga mencari cita di Amerika, sedang Cinta tetap di bumi pertiwi. Hingga 12 tahun kemudian, tahun 2014 (saat ini), sebuah mini drama reuni AADC dibuat, daaaaan lagi-lagi endingnya bagi saya mengecewakan bahkan untuk sebuah teaser film lanjutan. Lagi-lagi long distance relationship, lagi-lagi perpisahan di airport cuma kali ini bedanya gak ada nangis2an kayak dulu pertama pisah. Wah ala bisa karena biasa? biasa pisah?

Semua orang Indonesia pasti tahu dong BJ.Habibie dan alm Ibu Ainun, tahu maksud saya mendengar nama mereka. Setahun yang lalu, saya selesai membaca buku karangan bapak BJ.Habibie :Habibie dan Ainun. Buku tentang perjalanan hidupnya termasuk ibu Ainun didalamnya, karena bagi bapak Ibu Ainun adalah hidupnya. Ibu Ainun meninggal karena kanker. Saya kagum pada keduanya, meski banyak juga orang yang tidak terlalu simpati pada mereka, anyways there are always two opposites sides of a coin!Saya kagum akan kisah cinta mereka yang berlangsung manis dan cepat. Yang saya kagumkan lagi adalah karena cinta mereka adalah pondasi untuk sukses, dan bahagia. Cinta yang tulus, ikhlas, suci dan murni begitu kata bapak. Dari awal bapak belajar di bumi pertiwi sampai ke Jerman, ibu selalu setia ada. Cinta mereka juga tidak selalu  manis, kadang juga ada pertengkaraan, tetapi alm.Ibu selalu berada disamping bapak mendukung bapak. Kisah cinta yang dasyat!

Kalu kita perhatikan banyak sekali pasangan-pasangan cinta yang mungkin bisa kita ambil sebagai analago cinta, nah dinegeri barat ada si Romeo dan Juliet. Hmm, saya jujur tidak begitu menyukai kedua karakter ini, karakter cinta yang dihidupkan terasa berat, penuh derita, tangis, dan air mata bercucuran, hingga pada saaat kematianpun cinta tak bersatu. Tragis dan tidak romantis menurut saya.

Entah sejak kapan saya berpikiran bahwa Romeo dan Juliet tidak bisa mewakili analogi cinta, apalagi Rangga dan Cinta, dan Rama Sinta pun sama saja. Bagi saya analogi cinta adalah Habibie Ainun. Saya mungkin tidak adil karena membandingkan yang fiksi dan non fiksi. Namun fakta di masyarakat sering orang berkata ‘Oh Romeoku!’ dijawab ‘Wahai Julietku!’, atau ‘Cinta kita bagai Rama dan Sinta’ , mungkin anak muda sekarang bakal menganalogikan cinta mereka dengan bermesra sayang berkata ‘Kayak Rangga dan Cinta.’

Untuk saat ini saya pikir analogi cinta yang paling tepat dan indah dan kebetulan juga non fiksi adalah Habibie Ainun: cinta yang tulus, suci, murni dan abadi.
Flag Counter

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s