Ketika Takdir Menyatukan

Biasanya blog saya dalam bahasa Inggris, mengingat kalu lihat dari status di dashboard saya, kebanyakan para ‘bule’ alias orang yang gak bisa bahasa Indonesia yang nyasar ke blog saya. Kali ini emang sengaja pake bahasa Indonesia karena ini adalah tentang bagaimana saya bertemu dengan suami saya. Saya yakin cara kita bertemu dengan pasangan kita itu unik, dan berkesan. Cara kami juga unik dan panjang sekali, penuh lika-liku. Oh ya, sebenarnya saya udah  mau ngeblog hal ini bulan Juni lalu, tapi apa daya pekerjaan saya sebagai ibu rumah tangga yang kelewat sibuk terkadang, akhirnya blog ini harus ditunda lagi dan lagi.  Anyhow, saya ada waktu dan saatnya buat tulis bagaimana kami bertemu. Saya yakin jodoh itu ada di tangan Tuhan, tapi manusia pun wajib berikhtiar atau berusaha sebisa mungkin.

Readers pasti pernah dong mengalami yang namanya cinta monyet, dan cinta pertama. Alhamdulillah saya juga! yang bikin kesel, pasti ada yang namanya unrequited love alias cinta bertepuk sebelah tangan. Nah yang itu saya sering mengalami. Sejak saya kenal cinta, duuh, kayak tau aja arti cinta sesungguhnya. Mungkin lebih tepatnya sejak saya kenal cinta pertama, saya jadi tau bagaimana rasanya ditolak. Jujur, saya tidak pernah di ‘tembak’ cowok! jujur, saya nggak pernah denger selentingan dari teman2 saya, saya ditaksir cowok. Biasanya kan ada tuh yang namanya mak comblang, atau perantara buat kasih pesan-pesan cinta. Nah saya gak pernah dapet salam dari cowok manapun! kasihan ya saya kesannya! Saya juga heran kenapa! SMP cinta pertama ditolak, ditaksir juga gak pernah, SMA? sama juga!. Para pria yang saya taksir dari SMP-kuliah, semuanya hobby bikin saya GR doang tanpa PDKT ama saya! sooo, saya pikir mereka naskir saya, eeeeh ternyata mereka menjalin hubungan dengan teman-teman saya. Nangis bombay deh! sambil dengerin lagunya Dewa:

‘Baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan!’

Saya nih nggak pernah dikasih kesempatan deket dengan mereka, ya oleh mereka sendiri! Mereka nggak mau ngobrol banyak ama saya, lihat apa yang ada di otak saya. Bukan saya judgemental, tapi pada kenyataannya kebanyakan pria di negara saya itu cuma lihat chasingnya aja, alias penampilan fisiknya aja. Nggak semua ya! nggak semua pria dari negara saya itu begitu. Saya aja yang gak lucky ama pria dinegara saya. Ketika saya ditanya kenapa kok menikah dengan orang asing (saya kok risih ya pake istilah ‘bule’?), jawaban JUJUR (kacang ijo) saya adalah : Saya emang gak laku di Indonesia. Nggak ada yang naksir dan mau deket ama saya. Yang saya heran tanggapan orang-orang ‘Ah jangan bilang begitu bu.’. lantas saya suruh bilang apa dong? kalau itu semua dari pengalaman saya pribadi dan emang itu kenyataannya?.

Chasing saya sih jauh dari sempurna, tapi saya bersyukur dengan semua yang saya miliki. Ada beberapa kata-kata dari orang-orang , teman-teman disekitar saya yang mengatakan chasing saya beginilah, saya kayak ini lah, dan laih sebagainya. Kata-kata yang menusuk dan tidak akan saya lupa sepanjang hayat saya. Tanpa maksud merendahkan orang sebangsa dan setanah air, saya memang berpendapat bahwa orang Indonesia masih sering sekali melihat orang dari penampilan luar saja.

Misal: Loe ya udah item, kecil, hidung pesek, jerawatan, gembrot , sana loe ngaca!

Atau : Oh biar dia pesek dan item, liat dadanya bo! gede! semok

Silahkan tambahkan bagi yang biasa judgmental ama fisik seseorang!

 

Intinya, saya didepak cinta oleh para pria Indonesia karena chasing saya yang dianggap tidak sesuai dengan standard wanita idaman pria.

Saya kuliah jurusan keguruan bahasa Inggris! you know, I’ve been in love with this language since I was 9 years old! I watched Sesame Street and had learned a lot of the English words from there when I was 9!. Eitts maaf kok jadi keterusan pake Inggris. Nah, berhubung dulu tahun 1999, internet sedang booming2nya, saya ikutan lah browsing, dll. Mulai lah saya dikenalkan dengan teman-teman saya program chat messenger, dari yang MSN, Yahoo, ICQ, MIRC ya kalu gak salah, saya lupa-lupa ingat. Dengan berbekal bahasa Inggris saya, yang saya bilang bagus, tanpa bermaksud menyombongkan diri, saya iseng-iseng chat dengan orang-orang dibelahan lain. Saya ikutan language program disebuah situs, dimana orang-orang saling menawarkan jasa untuk mengajar bahasa. Saya tawarkan mengajar bahasa Indonesia, dan Inggris, dan sebagai gantinya saya minta diajarkan bahasa Jerman(pilihan saya kedua pada waktu saya ikut UMPTN(Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri)). Saya mulai ngeblog di multiply.com, yang sekarang udah gulung tikar. Saya bertemu banyak teman-teman asing baik maya atau offline. Mereka baik semua! tidak ada yang nakal, karena kalu yang nakal dari awalpun sudah saya depak kelaut jauuuuuh mengabur dilaut lepas! Saya menjadi tour guide mereka jelajah Indonesia bagian Jawa!. Saya pun sampe detik ini tetap menjaga komunikasi yang baik dengan mereka semua.

Waktu itu sekitar tahun 2003, malam hari di internet cafe! maklum koneksi internet pake telekom mahalnya minta amit! makanya saya rajin ke internet cafe sekedar check e-mail, browsing, dan chat. Waktu itu saya nangis, dan memfokuskan pikiran saya ke Tuhan yang Maha Kuasa agar saya diberi petunjuk tentang jodoh saya. Kemudian, saya berdoa bahwa siapapun yang menjawab pesan saya, dialah yang akan menjadi suami saya. Eits tapi jangan salah, saya kasih pesan disebuah chat  messenger yang biasa saya pakai begini : Halo saya dari Indonesia, dan saya mau berbagi info tentang negara saya. Jika Anda tertarik hubungi saya.  Saya pilih random people aja. Saya percaya kualitas pendidikan seseorang bisa dilihat dari cara ia menuliskan namanya, meskipun itu nama samaran. Dilihat dari mananya?

1.Biasanya mereka akan menggunakan huruf besar pada awal kata, dan huruf besar pada kata kedua. Misal: The Pirates.

2. Mereka tidak akan pakai nama yang aneh-aneh.

Dari beberapa yang saya kasih pesan, amazingly hanya SATU yang jawab? coba tebak siapa? ya suami saya sekarang ! Akhirnya saya punya temen cowok yang bisa saya ajak  bicara tentang banyak hal! banyak hal! Perjalanan cinta kami tidak serta merta langsung dari awal kita ‘bicara'(chat). Kami saling mengenal tahun 2003. Ada ratusan e-mail, beberapa kartu termasuk kartu pos, chat, dan komunikasi lewat telepon yang telah kita lakukan sampe pada tahun 2005, saya di ‘tembak’! oh begini rasanya dicintai! bukan berarti saya ini desperate banget mencari cinta. Oh ya ada yang menarik dari kartu pos yang dia kirimkan pertama kalinya ke saya! kartu pos kejutan yang bikin saya senang sekali! kartu pos yang intinya dia menginginkan saya mengirim kartu pos dari Indonesia sebagai tanda persahabatan, mengingat pada saat saya mendapat kartu pos itu, masih sekitar beberapa minggu setelah kami ‘bertemu.’

Yang ajaib! kita ini seperti blind date, alias kita nggak kirim foto sama sekali sampe sekitar 4 bulan lebih. Selama 4 bulan itu, kami sudah berkali-kali telepon. Well, dia sih yang telepon saya kadang sampe 6 jam! jadi hamnpir subuh di Indonesia, kadang saya sampai ketiduran. Bisa dibayangkan, selama kita bertelepon2 ria, berchat2 ria, beremail-email ria, berkirim kartu, kita sama sekali belum melihat bagaimana wajah kita, penampilan kita. Hanya dari deskripsi di email saja tentang penampilan fisik kita. Saya yang  memberanikan diri mengirim foto saya ke dia untuk pertama kali setelah hampir 4,well 4, 5 bulan tidak saling melihat. Gila?? tidak juga! Kalau boleh saya bangga dengan suami saya sekarang, dia belajar fisika sampe S3! dia belajar programmer! dia juga ikut club catur! saya harus bilang dia adalah orang yang genius- kami bicara banyak hal!

Sejak kami mengenal satu sama lain, ada banyak kebetulan yang terjadi diantara kami. Orang selalu bilang ‘Ah itu kan hanya kebetulan.’ Saya juga awal begitu, tetapi kebetulan demi kebetulan terjadi terus menerus. Saya jadi berpikir semoga memang Tuhan menjodohkan kita. Iya dong! itu kan bentuk optimisme seorang yang sedang menjalin hubungan kan?

Kami baru bertemu di Surabaya untuk pertama kalinya tahun 2008. Yep! lama ya! kayak gak niat! banyak teman-teman saya juga menuduh begitu, wong kenal 2003, pacaran 2005 ketemu kok 2008! niat gak sih? masalahnya dia sedang sibuk sekolah S3 waktu itu dan harus menyelesaikan desertasinya. Nggak takut dibohongi? NGGAK! Pada saat kami pertama bertemu, saya takut setengah mati bahwa dia akan sama dengan para pria2 di negara saya, yang begitu menatap muka langsung kabur. Lho, bukannya udah bertukar photos? iya memang, tapi tetap bertemu muka adalah penting bukan?. Saya bersyukur Tuhan Maha Baik! dia tetap mencintai saya walau chasing saya bagi pria2 di negara saya, saya tidak ada apa2nya (mereka tidak lihat otak saya, meski saya gak bilang saya genius). Saya baru sadar! saya lebih menarik untuk para pria asing, kenapa? karena saya tidak chasing doang, alias saya juga ada OTAK! Pria asing memang kebanyakan tidak jugdmental itu pendapat saya lho ya. Suami saya ini melihat OTAK saya, apa yang ada didalam sana. Memang mungkin chasing saya juga dianggap OK ya hehe, tapi yang jelas dia lihat dan bicara dengan saya karena saya ada OTAK.  Saya senang otak saya dihargai, saya senang bahwa chasing saya itu pemanis tapi tidak yang utama.

Tiap malam saya berdoa,bertanya apakah memang dia jodoh saya. Dalam mimpi saya, dia selalu muncul. Tuhan kasih saya petunjuk melalui mimpi saya, melalui berbagai kebetulan yang terjadi diantara kami, berbagai kesamaan pikiran akan beberapa hal. Tahun 2009, saya bertemu dengan keluarganya dengan teman-teman kantor dan bos2nya untuk pertama kali di  negara dimana Goethe berasal.  Tahun 2010 kami lamaran, dan 2011 kami menikah dan saya hijrah kesini. Cerita yang menurut saya amazing! cerita kisah cinta jarak jauh antara WN Indonesia dan seseorang dibelahan negara lain yang paling panjang yang pernah saya ketahui.

Sekarang, alhamdulillah kami  bahagia dengan seorang putri yang cerdas seperti papanya dan saya hehe.

Sekedar flashback! Pada tahun 1989, ketika saya berumur 9 tahun, kami sekeluarga sedang berlibur dalam rangka Idul Adha. Kami memutuskan untuk berlibur ke pantai Pangandaran Jawa Barat untuk shola Idul Adha. Pada saat selesai sholat Id, saya melihat ada sebuah keluarga dengan dua anak kecil, yang saya ingat betul adalah dua anak perempuan kembar. Keluarga tersebut adalah keluarga dimana sang suami adalah ‘bule’ alias WN Asing dan ibunya adalah orang Indonesia. Si suami memakai batik. Keluarga itu sungguh terlihat harmonis. Saya sudah berada dimobil  bersama keluarga saya, dan tanpa saya sadari saya berpikir dan berdoa ‘ Ya Allah, semoga suatu saat saya juga akan seperti keluarga itu.’ Allah itu Maha mendengar!! Meski saya secara tidak sadar harus menunggu selama 22 tahun hingga akhirnya saya seperti keluarga itu, cuma bedanya anak kami masih satu. Updated 2017: Yang kedua mau lahir! yay! alhamdulillah

Bagi yang sedang menjalin hubungan dengan pria asing, kenali betul pasanganmu, bersabar, dan berdoa! And jangan lihat orang dari covernya aja ya please!!

L
Flag Counter

Advertisements

One response to “Ketika Takdir Menyatukan

  1. Pingback: Mengenang Masa LDR Bagian 1: Awal Mula Semua | The Pearl of Java·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s